krwtimes - Di balik pembangunan asrama baru untuk anak-anak yatim dan dhuafa di Yayasan Nahdlatul Ishlahiyah, Adiarsa Timur, tersimpan kisah tentang keteguhan, harapan, dan perjalanan panjang seorang perempuan muda yang tumbuh bersama tempat itu.
Namanya Titi Dewi Jayanti (26). Bagi sebagian orang, ia mungkin hanya pengurus yayasan. Namun di balik perannya hari ini, ada perjalanan hidup yang nyaris terhenti oleh keterbatasan ekonomi.
Sembilan tahun lalu, Titi adalah siswi kelas 10 SMK yang diliputi kecemasan. Setelah lulus dari Madrasah Tsanawiyah, ia hampir menyerah pada keadaan. Biaya pendidikan menjadi tembok besar yang seakan tak mungkin ia lewati.
“Titik terendah itu benar-benar saya rasakan,” kenangnya.
Harapan datang dari arah yang tak disangka. Pertemuannya dengan sosok Ifi, istri ketua yayasan yang saat itu menjalankan program KKN dari Universitas Singaperbangsa Karawang di Desa Cilebar—menjadi awal perubahan besar dalam hidupnya. Dari sana, jalan Titi perlahan terbuka.
Melalui yayasan, ia mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan. Bukan hanya itu, ia juga mulai terlibat dalam aktivitas yayasan, dari sekadar membantu hingga akhirnya menjadi bagian penting di dalamnya. Kesempatan itu tidak ia sia-siakan.
Dengan tekad kuat, Titi menyelesaikan pendidikan tinggi dan meraih gelar Sarjana Teknik Informatika dari STMIK Pamitran Karawang lewat beasiswa penuh.
Kini langkahnya belum berhenti, sebab ia tengah menempuh pendidikan S2 Magister Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Muhammadiyah Indonesia.
“Saya ingin memberi dampak yang lebih besar, terutama dalam pengelolaan pendidikan di yayasan,” ujarnya.
Hampir satu dekade mengabdi, Titi menyaksikan banyak hal, termasuk perjuangan yayasan membangun asrama layak bagi anak-anak yang tidak memiliki tempat pulang.
Di yayasan itu, sekitar 15 anak tinggal secara permanen. Mereka bukan hanya yatim dan dhuafa, tetapi juga anak-anak yang benar-benar tidak memiliki keluarga untuk kembali, bahkan saat Idulfitri. Bagi Titi, mereka bukan sekadar anak asuh. Mereka adalah keluarga.
Momen peletakan batu pertama asrama baru menjadi salah satu yang paling membekas. Di tengah keterbatasan, pembangunan itu menjadi simbol harapan yang perlahan diwujudkan. Namun perjalanan tidak selalu mulus.
Pada 2022, kebakaran sempat melanda kawasan sekitar yayasan dan berdampak pada bangunan. Situasi mencekam itu beruntung tidak memakan korban jiwa karena para santri tengah pulang kampung.
Peristiwa itu justru menguatkan tekad Titi. Dari yang pernah menjadi bendahara hingga kini dipercaya sebagai sekretaris yayasan, ia memahami betul bahwa pengelolaan yang baik adalah kunci keberlangsungan.
Lebih dari itu, ia membawa satu komitmen pribadi; tidak boleh ada lagi anak yang terhenti pendidikannya karena alasan biaya.
Apa yang dulu hampir mematahkan langkahnya, kini justru menjadi bahan bakar perjuangannya. (KT)
